UKM Berbasis Ekspor Seharusnya Bisa Menjadi Garda Terdepan Ekonomi Indonesia

RIAUEXPOSE.COM, Jakarta – Usaha kecil dan menengah (UKM) berbasis ekspor seharusnya bisa menjadi garda terdepan ekonomi Indonesia terutama di melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, kata seorang pejabat pemerintah.

“Harapannya UKM bisa menjadi solusi, namun tetap harus mendapat dukungan terutama permodalan agar mampu menembus pasar ekspor,” kata Asisten Pertanian dan Perkebunan Kementerian Koperasi dan UKM Victoria Simanungkalit di Jakarta, Kamis, dalam diskusi bertajuk “Potensi Ekspor Di tengah Pelemahan Rupiah”.

Menurut dia sektor UKM yang potensial untuk ekspor masih didominasi makanan, minuman, fesyen, dan kriya (kerajinan) persoalannya sektor-sektor tersebut masih memiliki kandungan impor yang juga tinggi, misalnya saja untuk produk tas kulit maka kancing dan ritsleting masih harus didatangkan dari luar negeri.

“Dengan demikian kalau UKM itu mendapat order ekspor dalam jumlah besar tentunya dukungan permodalan menjadi hal utama,” jelas dia.

Hadirnya perusahaan layanan e-commerce seperti Bli-Bli, Tokopedia, Bukalapak, dan sebagainya menjadi salah satu faktor yang membuat UKM tanah air mampu menembus pasar global tanpa harus ikut kegiatan pameran yang difasilitasi pemerintah.

Data menunjukkan meskipun anggaran dari pemerintah untuk kegiatan pameran turun hampir 50 persen, akan tetapi devisa sektor UKM justru naik 12 kalinya.

Pengamat ekonomi Indef, Bhima Yudhistira Adinegara mengatakan, perang dagang AS-China teryata ikut mempengaruhi kinerja ekspor Indonesia. Faktor ini juga ikut mendorong sejumlah negara tujuan ekspor, seperti India menerapkan proteksi berlebihan salah satunya pemberlakuan bea masuk di atas 50 persen untuk produk CPO asal Indonesia.

“Padahal ekspor CPO berkontribusi 15 persen dari total ekspor non migas,¿ kata Bhima dalam diskusi yang diselenggarakan Forum Warta Pena.

Menurutnya, ada beberapa solusi bagi pemerintah agar dapat meningkatkan nilai ekspor di tengah persoalan global dan melemahnya nilai tuker rupiah terhadap dolar AS dengan memberikan pelonggaran setiap pungutan, khususnya ekspor CPO diturunkan menjadi 15-20 dolar AS per ton ,dan memperluas pasar baru seperti Afrika Tengah, Eropa Timur, dan Rusia.

“Bagi kendala logistik, pemerintah bisa memberikan keringanan pajak (tax holiday) untuk forwarder atau jasa ekspor dari Indonesia ke Afrika misalnya,” kata Bhima.    (ant)

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

About the Author

Leave a comment