Pedagang Mengeluh Omzet Turun Drastis Akibat Proyek Instalasi Pengolahan Limbah Domestik

Baner Iklan 1, 2, 3

RIAUEXPOSE.COM, Pekanbaru – Puluhan pedagang di Jalan Ahmad Dahlan, Kota Pekanbaru, mengeluhkan omzet penjualan yang menurun drastis karena proyek Instalasi Pengolahan Limbah Domestik (IPLD) menutup jalan tersebut selama hampir dua bulan, dan pedagang khawatir penyelesaian pengerjaan akan lebih lama dari target yang disosialisasikan oleh pemerintah.

“Omzet saya turun drastis, tinggal 20 persen. Penyebabnya karena pembeli tak bisa masuk ke tempat usaha kami,” kata Zakirman, pemilik Toko Tiara di Jl. Ahmad Dahlan No.1/17 di Pekanbaru, Kamis.

Toko Zakirman yang menjual alat tulis kantor (ATK) dan usaha fotokopi tepat berada di tepi jalan, yang kini digali untuk proyek IPLD. Ada tiga lubang besar yang kini digali dengan kedalaman sekitar 10 meter yang sedang dikerjakan di sana. Proyek itu menutup akses utama dari Jl.Ahmad Yani ke Jl. Ahmad Dahlan di depan Kantor Imigrasi Pekanbaru.

Zakirman mengatakan informasi dari RT/RW setempat menyatakan pihak pemerintah daerah dan perusahaan kontraktor proyek saat sosialisasi menyatakan pengerjaan proyek itu akan selesai dalam dua bulan. Namun, ia mengatakan sejak dikerjakan akhir April sampai kini proyek itu belum terlihat akan rampung sesuai target.

“Janjinya selesai dalam dua bulan, tapi sepertinya tidak akan tercapai karena sekarang masih baru menggali lubang. Belum lagi mereka akan cuti Lebaran dua minggu,” katanya.

Ia mengatakan, para pedagang yang terkena dampak pengerjaan proyek sudah melayangkan surat protes untuk meminta kompensasi kerugian kepada perusahaan kontraktor. Pertemuan itu berlangsung pada awal bulan Mei ini.

“Saya ingat setidaknya ada 20 pedagang yang meminta kompensasi karena penjualan menurun drastis. Tapi sampai sekarang perusahaan belum ada respon,” katanya.

Harnen, pemilik toko penjual ATK dan fotokopi di daerah itu mengatakan omzet penjualannya dari Rp600 ribu per hari kini turun drastis tidak sampai Rp100 ribu. Jalan yang ditutup itu sangat menyusahkan usahanya.

Baner Iklan 1, 2, 3

“Harapan saya proyek ini cepat selesai karena ini sudah mau Lebaran, kebutuhan banyak untuk keluarga,” katanya.

Novrita, penjahit yang membuka usaha dekat dengan lokasi proyek mengatakan pelanggan-pelanggan banyak yang tidak bisa menuju tokonya lagi. Meski ada jalan alternatif menuju tempat itu, namun rutenya lebih sulit karena berbelok-belok lewat tengah permukiman warga.

“Biasanya kalau tahun lalu, mau Lebaran ini saya sampai menolak pesanan karena terlalu banyak. Tapi sekarang ini jahitan sepi,” keluhnya.

Kepala RW 02, Azhar membenarkan bahwa pedagang-pedagang yang terkena dampak proyek IPALD mengajukan komplain dan sudah diserahkan ke kontraktor pengerjaan, yakni PT Wika.

“Tapi seingat saya yang komplain sekitar 10 perusahaan lewat pertemuan sebelum bulan Ramadhan,” katanya.

Ia mengatakan karena ada proyek itu membuat Jl. Ahmad Dahlan yang sebelumnya sangat ramai untuk usaha menjadi terhenti. Akses jalan yang disisakan oleh kontraktor sangat sempit.

Ia juga membenarkan kontraktor menjanjikan proyek itu selesai dalam dua bulan.“Tapi itu kalau tidak ada kendala. Sedangkan, waktu itu mereka sempat berhenti karena saat menggali terkena pipa air PDAM. Air muncrat ke mana-mana dan penanganannya sampai tiga minggu,” ujarnya.

Menurut dia, permintaan pedagang agar dapat kompensasi adalah hal yang wajar. Namun, ia mengatakan sampai kini tidak ada respon dari kontraktor.

Hingga kini pihak kontraktor belum mengeluarkan tanggapan resmi terkait komplain pedagang yang terdampak proyek IPALD. Seorang pengawas proyek yang ditemui Antara di Jl. Ahmad Dahlan enggan berkomentar kecuali wartawan sudah mendapat surat izin liputan dari instansi Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Riau.

BANNER PKBM

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.