Dinas Pariwisata Riau Bantu Bina Pengelola Homestay di Kawasan Wisata

Baner Iklan 1, 2, 3

Riauexpose.com, Pekanbaru – Sebanyak 36 orang pengelola kawasan wisata di Provinsi Riau mengikuti kegiatan pembinaan pengelolaan pondok wisata atau “homestay”, dari Dinas Pariwisata Riau, untuk meningkatkan pelayanan yang baik kepada wisatawan.

Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pariwisata Riau, Raja Yoserizal di Pekanbaru, Kamis, mengatakan potensi bisnis homestay di destinasi wisata di daerah masih terbuka dan bisa melibatkan masyarakat setempat.

“Contohnya di Kabupaten Kuantan Singingi sedikit sekali hotel yang bisa menampung wisatawan. Untuk itu para pelaku pariwisata bisa melihat kondisi ini. Nah dengan adanya homestay tentunya bisa membantu para wisatawan yang berkunjung,” katanya.

Raja Yoserizal mengatakan, untuk memberikan pelayanan baik kepada wisatawan, pengelola objek wisata di Riau harus bisa melaksanakan tujuh poin program sapta pesona yakni, keamanan, ketertiban, kebersihan, kesejukan, keindahan, keramahan dan kenangan.

Para pengelola homestay juga harus bisa melakukan pengawasan kepada tamu yang datang agar dapat menjaga norma agama juga adat istiadat di Riau, dan mampu menyajikan atraksi kearifan lokal dan kuliner khas daerah.

Pelatihan untuk pengelola objek wisata di Riau berlangsung di Pekanbaru pada tanggal 19 hingga 22 November 2019. Kegiatan itu menghadirkan narasumber yang memiliki kompetensi di sektor pariwisata di antaranya, Pelaksana tugas Kadispar Riau Raja Yoserizal, Ketua Tim Perumus SKKNI Homestay Kemenparekraf Budi Setiawan.

Baner Iklan 1, 2, 3

Nama terakhir juga menjabat sebagai Ketua Tim Pembuat Modul Homestay Desa Wisata Kemenparekraf 2014 dan Ketua Tim Percepatan pengembangan Desa Wisata Nasional.

Ketua Tim Perumus SKKNI Homestay Kemenparekraf, Budi Setiawan mengatakan, pembinaan dari Dinas Pariwisata Riau menurutnya sangat bagus dan bermanfaat untuk akselarasi destinasi di daerah juga sejalan dengan program yang dilakukan oleh Deputi pengembangan industri dan kelembagaan Kemenparekraf, melalui program pengembangan destinasi wisata dan pendampingan melalui perguruan tinggi.

“Kegiatan ini akan berdampak sekali, karena ketika wisatawan masuk ke objek wisata akan mencari homestay, kuliner dan atraksi wisata. Tentunya hal ini akan membantu penghasilan ekonomi masyarakat,” kata Budi Setiawan

Budi menyarankan kepada pengelola homestay agar tidak mengelola homestay secara individu, tetapi memiliki satu wadah. Minimum memiliki asosiasi pengelola homestay yang lebih komplit lagi apabila dibungkus dengan desa wisata dan paket-paket wisata.

“Desa wisata ada empat tingkatan, yaitu klasifikasi Desa wisata rintisan, berkembang, maju dan mandiri. Dengan perkembangan homestay yang bagus tentunya secara tidak langsung akan mempengaruhi peringkat desa wisata tersebut. Poin paling penting masyarakat harus sadar wisata melalui program sapta pesona karena inilah ruhnya sektor pariwisata,” ujarnya.

Budi menambahkan, pengelola homestay atau masyarakat harus bisa menyajikan atraksi dengan kearifan lokal yang ada. Atraksi bukan hanya event pertunjukan seni saja bisa dikemas dengan kegiatan yang sederhana. Contohnya tamu yang datang bisa diajak langsung melihat atau ikut membuat kuliner khas daerah, misalkan membuat es laksemana mengamuk.   (ant)

BANNER PKBM

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.