Didatangi MURI, Perang Air Selatpanjang Diharapkan Masuk Rekor MURI

RIAUEXPOSE.COM, Pekanbaru – Festival Perang Air di Kota Selatpanjang, Kabupaten Kepulauan Meranti, Provinsi Riau, pada 2019 diharapkan bisa tercatat di Museum Rekor Dunia-Indonesia (MURI) karena tiga keunikannya.
“Hari ini orang dari MURI datang di Selatpanjang dan selama dua hari akan memantau Perang Air, terserah mereka nanti untuk menilainya,” kata Kepala Dinas Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga Kabupaten Kepulauan Meranti, Rizky Hidayat di Pekanbaru, Rabu.

Selatpanjang merupakan kota di pesisir Riau yang selalu ramai saat perayaan Imlek karena sebagian besar penduduknya adalah keturunan Tionghoa.

Tradisi perang air, atau masyarakat setempat menyebutnya “Cian Cui” membuat perayaan Imlek di Selatpanjang unik dan berbeda dengan kota lainnya. Pemerintah Kabupaten Meranti mengemas “Cian Cui” sebagai festival sejak 2013

Rizky menjelaskan, Perang Air Selatpanjang bisa tercatat sebagai festival pada perayaan Imlek dengan peserta terbanyak. Berdasarkan catatan Antara pada “Cian Cui” 2018, tercatat sekitar 22.258 wisatawan ikut meramaikan festival tersebut yang di dalamnya juga ada 3.589 wisatawan mancanegara.

Sementara itu, jumlah penduduk lokal di Selatpanjang yang mengikuti Festival Perang Air mencapai 16.742 orang. Dengan begitu, secara keseluruhan Festival Perang Air 2018 diikuti oleh sekitar 39.000 perserta.
“Peserta terbanyak untuk masuk dalam MURI kurang lebih harus ada 1.000 orang. Kalau di perang air, jumlah 1.000 itu bisa kami lampaui,¿ kata Rizky.

Ia menargetkan ada 25.000 wiatawan pada festival perang air 2019. Perang Air Selatpanjang bisa juga tercatat di MURI sebagai festival dengan properti terunik.

Rizky menjelaskan uniknya festival itu adalah menggunakan becak motor. Ada sekitar 500 becak yang bisa digunakan warga dan wisatawan.

Pengemudi becah motor biasanya sudah menyiapkan ember besar berisi air untuk penumpangnya.

Untuk menjaga kebersihan, peserta perang air dilarang menggunakan air dengan kemasan plastik karena menimbulkan sampah di jalan dan menyakiti peserta lain.

“Kami sudah sepakat untuk mengatur jangan menggunakan plastik, kemasan air gelas. Harus menggunakan gayung air atau yang lain yang tidak menyakiti orang. Kami akan menyemprotkan air seperti hujan pakai mobil pemadam kebakaran,” ujarnya.

Selain itu, Rizky mengatakan penyelenggaraan Cian Cui tahun ini bisa tercatat di MURI sebagai festival dengan durasi terlama. Perang Air sebenarnya berawal dari permainan anak-anak setempat saat Imlek, dan kabarnya juga pernah dilakukan saat perayaan Lebaran Idul Fitri. Karena tidak terkait ritual agama tertentu, semua lapisan masyarakat bisa ikut meramaikannya.

Tradisi perang air itu berlangsung setiap sore hari sejak Imlek tanggal 5 Februari 2019, dan puncaknya adalah perayaan Imlek hari ke-7 pada 11 Februari. Rute perang air melalui jalan-jalan protokol, seperti Jalan A. Yani, Tebing Tinggi, Diponegoro, Kartini dan Imam Bonjol.

Setelah dikemas dalam bentuk festival, acara ini berlangsung setiap sore hari sejak pukul 16.00 hingga 18.00 WIB.”Durasi penyelenggaraan ini terlama, karena seminggu lamanya,” kata Rizky.

Ia mengatakan pada festival tahun ini juga diselenggarakan “Meranti Night Carnival”, yaitu acara untuk mempopulerkan kuliner dari sagu khas Meranti, kerajinan, penampilan seni dan budaya.

Acara itu berpusat di Taman Cik Puan, Jl. Merdeka selama perang air berlangsung tujuh hari.

Festival Perang Air pada tahun ini tidak masuk dalam kalender pariwisata Indonesia Kementerian Pariwisata (Kemenpar), namun pada 2018 Festival Perang Air menjadi juara di ajang Anugerah Pesona Indonesia Kemenpar dari kategori festival pariwisata terpopuler.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.